JANGAN JADIKAN PENDERITAAN UMAT SEBAGAI ALAT UNTUK KEPENTINGAN POLITIK!
••••
Syaikh ‘Abdus Salam as-Suhaimi hafizhahullah
Sesungguhnya sikap-sikap ketika menghadapi penderitaan akan menyingkap hakikat slogan-slogan, juga akan memperlihatkan perbedaan antara orang yang membela suatu permasalahan karena prinsip yang diyakininya dengan orang yang menjadikannya sebagai sarana untuk meraih keuntungan politik dan kepentingan kelompok.
Sebagian negara, kelompok, dan organisasi tidak bergerak berdasarkan tolok ukur kebenaran dan keadilan yang tetap. Sebaliknya, mereka digerakkan oleh kepentingan dan agenda masing-masing. Mereka terkadang memanfaatkan penderitaan rakyat untuk memperluas pengaruh, meraih simpati, dan menggerakkan massa. Bahkan, mungkin ada pihak yang menyuplai dukungan dan bantuan kepada mereka demi mewujudkan kepentingan regional atau politik.
Berangkat dari sinilah, perbedaan sikap terhadap tragedi Gaza dan serangan kelompok Houthi terhadap Kerajaan Arab Saudi menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang wajar mengenai standar ganda dan hakikat prioritas yang dipilih oleh pihak-pihak tersebut. Namun, sikap adil mengharuskan kita membedakan antara hal-hal yang telah dibuktikan oleh fakta dan hal-hal yang masih membutuhkan bukti terkait pendanaan dan pengarahan.
Persoalan-persoalan yang benar tidak boleh dipilah-pilah berdasarkan kepentingan. Darah kaum muslimin dan keamanan negeri mereka bukanlah komoditas untuk dijadikan alat tawar-menawar politik.
Kerajaan Arab Saudi, negeri dua Tanah Suci dan kiblat kaum muslimin, layak mendapatkan dukungan yang jujur serta pembelaan terhadap keamanan dan kedaulatannya. Demikian pula Gaza dan seluruh negeri kaum muslimin, yang rakyatnya tertindas layak mendapatkan pertolongan.
Walaupun demikian, kewajiban kaum muslimin adalah bergantung kepada Allah Ta‘ala dan bertawakal kepada-Nya dengan sebenar-benarnya tawakal, seraya menempuh sebab-sebab yang dibenarkan oleh syariat, baik sebab-sebab yang bersifat syar‘i maupun material. Sebab, kemenangan berasal dari Allah, sedangkan sebab-sebab yang ditempuh tidak bisa memberikan pengaruh kecuali dengan izin-Nya, Subhanahu wa Ta‘ala.
Allah Ta‘ala berfirman,
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ.
“Barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.”
(QS. Ath-Thalaq: 3)
Maka, janganlah kita tertipu oleh kekuatan musuh dan jangan pula berputus asa menghadapi tipu daya orang-orang yang melakukan konspirasi. Tetapi, hendaklah kita mewujudkan tauhid, menempuh sebab-sebab kekuatan dan kesiapsiagaan, bersatu di bawah kepemimpinan para penguasa kita, serta berdoa kepada Allah agar melindungi negeri dua Tanah Suci, memberikan bimbingan kepada para tentara kita, menghancurkan para penyerang, dan menggagalkan tipu daya orang-orang yang membuat makar.
Tawakkal yang hakiki bukanlah meninggalkan sebab-sebab. Sebagaimana menempuh sebab-sebab juga bukan berarti bergantung kepadanya. Tetapi tawakkal yang benar adalah bergantungnya hati kepada Allah, disertai pengerahan segala kemampuan untuk melakukan hal-hal yang disyariatkan dan dibolehkan oleh Allah.
Ya Allah, jagalah Kerajaan Arab Saudi dan negeri-negeri kaum muslimin dari segala keburukan. Menangkanlah para tentara kami, jagalah keamanan kami, singkaplah hakikat setiap orang yang memperdagangkan masalah umat demi meraih kepentingan pribadinya, dan jadikanlah tipu daya orang-orang yang berbuat jahat berbalik menimpa diri mereka sendiri.
🌐 Sumber: https://x.com/Alsuhaimy_net/status/2110483597433962686
https://t.me/salafysolo/2030