Ibnu Sina berkata: "Karena Pencipta, perbuatan-Nya adalah pengadaan dari ketiadaan, dan perbuatan-Nya adalah identik dengan wujud sesuatu." Maka sesuatu berdiri kepada-Nya dalam ketergantungan dan keterikatan, tidak dapat melakukannya tanpa-Nya sesaat pun. Adapun pembuat, ia tidak menciptakan dari ketiadaan, melainkan mengubah bentuk yang sudah ada sebelumnya, maka perbuatannya bukanlah identik dengan wujud yang dibuat, melainkan campur tangan dalam materi yang ada. Kesadaran akan hubungan ini mengarahkan pemikiran manusia menuju kerendahan hati dan moderasi, menegaskan tanggung jawab individual dan kolektif, serta membantu merumuskan pemahaman yang utuh tentang eksistensi manusia dalam cahaya filsafat Islam.
Kesimpulan pembahasan: Akibat (al-ma'lul) tidak memiliki wujud di balik perbuatan sebabnya, melainkan wujudnya adalah identik dengan perbuatannya yang termanifestasi di eksternal, oleh karena itu ia membutuhkannya di semua tingkatan, bahkan sekalipun diandaikan kewajiban wujudnya secara tidak langsung (bi al-ghayr); karena kewajiban ini tidak mengeluarkannya dari status ketergantungan (al-faqr), tetapi hanya menggugurkan kebutuhan akan sebab persiapan (al-'illah al-i'dadiyyah) yang tidak berperan kecuali hanya persiapan tanpa pengadaan.
Karena Pencipta, perbuatan-Nya adalah pengadaan dari ketiadaan dan perbuatan-Nya adalah identik dengan wujud sesuatu, maka sesuatu berdiri kepada-Nya dalam ketergantungan dan keterikatan, tidak dapat melakukannya tanpa-Nya sesaat pun. Adapun pembuat, ia tidak menciptakan dari ketiadaan sebagaimana telah dijelaskan, melainkan mengubah bentuk yang sudah ada sebelumnya, maka perbuatannya bukanlah identik dengan wujud yang dibuat, melainkan campur tangan dalam materi yang ada. Dan yang dibuat setelah pembuatannya dapat melakukannya tanpa dia.
May 25, 2026 114