Kau seperti air terjun di tengah hutan yang sepi —
menyembunyikan indahmu dari dunia,
tapi siapa pun yang menemukannya
akan tahu, betapa berharganya ketenangan itu.
Tatapanmu jatuh lembut,
seperti air yang menuruni batu,
dingin di luar, tapi menenangkan di dalam.
Suaramu pun sama — tenang, tapi menggema,
menyentuh tempat-tempat di hatiku
yang bahkan aku sendiri tak tahu masih hidup.
Aku mencintaimu bukan karena megahmu,
tapi karena caramu mengalir —
tanpa paksa, tanpa ingin lebih.
Kau memberi keindahan dengan cara sederhana,
membasuh luka-luka tanpa pernah menanyakan asalnya.
Di dekatmu, dunia terasa berhenti berisik.
Derasnya hujan, gemuruhnya angin,
semuanya seolah menunduk,
mengizinkan kita berbicara lewat diam.
Aku tahu, mencintaimu kadang seperti menatap air terjun dari jauh:
tak bisa digenggam, tapi tak sanggup berpaling.
Namun bila aku diberi satu kesempatan,
aku ingin menjadi batu di bawahmu —
yang tak pernah bosan disentuh,
yang menerima setiap jatuhmu,
meski tahu, kamu akan selalu kembali ke langitmu.
Dan jika suatu hari dunia lelah,
biarlah kita menjadi seperti air terjun —
terus mengalir, tanpa takut jatuh,
karena di dalam setiap jatuh itu,
ada keindahan yang tak akan pernah hilang.