day in my life as mahasiswa…”
Melihat gedung fakultasnya.
Melihat jaket almamaternya.
Melihat orang-orang cerita tentang jurusan yang kita suka.
Lalu dalam hati berpikir,
“semoga suatu hari aku juga bisa ada di sana.”
Mimpi kecil seperti itulah yang membawa kita sampai duduk berjam-jam mengerjakan soal sekarang.
Mungkin terdengar sederhana.
Tapi aku rasa nggak ada mimpi yang terlalu kecil kalau mimpi itu berhasil membuat seseorang terus bergerak.
Aku nggak tahu persis akan seperti apa beberapa bulan ke depan.
Aku nggak tahu kampus mana yang akhirnya akan menjadi tempatku.
Aku nggak tahu kota mana yang mungkin menjadi rumah kedua.
Aku nggak tahu teman-teman seperti apa yang nanti akan aku temui.
Aku bahkan nggak tahu apakah jalan yang sekarang aku inginkan adalah jalan yang akhirnya akan Tuhan kasih.
Tapi aku percaya satu hal:
usaha yang tulus nggak pernah benar-benar sia-sia.
Mungkin hasilnya datang dalam bentuk yang kita mau.
Mungkin juga datang dalam bentuk yang baru kita pahami beberapa tahun kemudian.
Untuk sekarang, tugasku cuma satu.
Berusaha.
Belajar sebisaku.
Berdoa sebanyak yang aku mampu.
Menjaga diriku supaya nggak hancur karena tekanan.
Dan menyerahkan bagian yang memang nggak bisa aku kontrol kepada Tuhan.
Karena ada titik ketika kita harus sadar bahwa manusia cuma bisa mempersiapkan.
Kita bisa memilih jurusan.
Kita bisa menentukan kampus.
Kita bisa mengerjakan ribuan soal.
Kita bisa ikut puluhan tryout.
Kita bisa menyusun jadwal belajar sedetail mungkin.
Tapi tetap ada bagian kehidupan yang nggak sepenuhnya berada dalam kendali kita.
Dan mungkin di situlah doa punya tempatnya.
Semoga ketika waktunya tiba, aku mendapatkan yang terbaik.
Bukan cuma “terbaik” menurut keinginanku hari ini.
Tapi terbaik untuk perjalanan hidupku ke depan.
Kalau memang kampus dan jurusan yang sekarang aku perjuangkan adalah tempat terbaik untukku, semoga jalannya dibukakan.
Semoga ketika ujian nanti pikiranku tenang.
Semoga semua materi yang pernah kupelajari bisa muncul kembali di kepala pada saat dibutuhkan.
Semoga aku diberikan ketelitian.
Semoga nggak panik.
Semoga bisa mengatur waktu.
Semoga bisa membaca soal dengan jernih.
Semoga bisa memilih jawaban dengan yakin.
Dan semoga ketika semuanya selesai, aku bisa pulang dengan perasaan:
“aku sudah memberikan yang terbaik yang aku punya.”
Aku rasa itu salah satu target terbesarku.
Bukan cuma lolos.
Tapi tidak mempunyai penyesalan karena merasa kurang mencoba.
Aku ingin masuk ruang ujian membawa semua usaha yang sudah kukumpulkan selama berbulan-bulan.
Lalu keluar dari sana dan menyerahkan sisanya.
Karena setelah itu, apapun hasilnya nanti, setidaknya aku tahu bahwa aku tidak mengkhianati mimpiku sendiri.
Lucu juga kalau diingat.
Dulu SNBT cuma tiga huruf yang sering lewat di timeline.
Sekarang tiga huruf itu bisa bikin senang, stres, termotivasi, takut, optimis, pesimis, semuanya dalam hari yang sama.
Tapi mungkin suatu saat nanti semuanya akan menjadi cerita.
Kita akan melihat masa ini sebagai bagian kecil dari kehidupan.
Mungkin nanti sambil duduk di kelas kampus, kita tiba-tiba ingat masa-masa belajar TPS sampai tengah malam.
Mungkin nanti sambil memakai almamater, kita ingat pernah menangis cuma karena nilai tryout.
Mungkin nanti ketika punya teman kuliah baru, kita akan cerita,
“dulu gue stres banget waktu SNBT.”
Lalu tertawa karena semuanya akhirnya sudah lewat.
Aku menunggu hari itu.
Hari ketika semua ketidakpastian sekarang sudah punya jawaban.
Hari ketika aku nggak perlu lagi bertanya-tanya,
“nanti aku kuliah di mana ya?”
Karena jawabannya sudah ada di depan mata.
Sampai hari itu datang, aku mau terus mencoba.
Nggak harus selalu sempurna.
Nggak harus selalu produktif 12 jam sehari.
Nggak harus menjadi orang paling pintar.
Aku cuma perlu menjadi sedikit lebih baik daripada diriku kemarin.
Hari ini ngerti satu konsep baru, cukup.
Hari ini memperbaiki satu kelemahan, cukup.
Hari ini berhasil tetap belajar walaupun malas, cukup.
Karena perjalanan panjang memang nggak selesai dalam satu malam.
Untuk aku