Mengapa Menulis Community First
Kami telah terjun dalam dunia pendidikan lebih dari 27 tahun, berawal di Sekolah Cikal hingga pada tahun 2016 berdiri menjadi Guru Belajar Foundation. Kami mencapai sejumlah keberhasilan, sebagaimana kami mendapatkan pelajaran dari sejumlah kegagalan.
Dari kegiatan pelatihan guru, menjadi program peningkatan kapasitas yang lebih kompleks, hingga menjadi pengorganisasian komunitas yang lebih berdaya. Hingga saat ini, kami telah mendampingi puluhan ribu guru belajar di lebih dari 200 daerah di Indonesia dengan beragam level keberdayaan. Perluasan dampak melalui Program Pengembangan Kepemimpinan Guru dan Temu Pendidik Nusantara pun telah mendapatkan rekognisi global sebagai 10 finalis UNESCO-Hamdan Prize for Teacher Development.
Dari perjalanan panjang tersebut, kami mengenali sejumlah pola yang bertahan dalam ekosistem pendidikan dari waktu ke waktu. Ada pola yang menghasilkan keberhasilan dan terus merawat peningkatan. Ada pola yang menghasilkan kegagalan meski seringkali bisa dikemas sebagai keberhasilan.
Sebagaimana komitmen kami dalam pembelajaran berpihak pada anak, maka komitmen kami dalam pendidikan adalah berpihak pada komunitas. Apabila selama ini program lebih dipandang dari sudut pandang manajemen, kami menggeser lensanya menjadi sudut pandang komunitas. Karena komunitas bukan hanya penerima manfaat, tapi penggerak sesungguhnya dari misi yang dibawa oleh program.
Oleh karena itu, kami mencetuskan buletin Community First di LinkedIn — untuk menyajikan wawasan dari sudut pandang komunitas. Harapannya, ketika manajemen program, baik CSR maupun lembaga filantropi, mendapatkan wawasan ini, akan lahir program yang lebih berdampak dan berkelanjutan.
Enam artikel yang telah terbit sejauh ini sebenarnya berputar di satu titik yang sama: yang selama ini dirawat sebagai keberhasilan sering kali hanyalah kepatuhan pada logika program — bukan pada kebutuhan komunitas yang bergerak jauh lebih lambat dan tidak selalu linear.
Enam pola ini baru diagnosis. Dari sinilah kami sedang menyusun langkah berikutnya — bagaimana pola-pola ini bisa dijawab, bukan sekadar dikenali. Dan untuk sampai ke sana, kami butuh satu hal yang tidak bisa kami dapatkan dari refleksi internal saja: sudut pandang Anda sebagai pembaca yang mengalami langsung ekosistem ini dari posisi yang berbeda-beda.
Caranya sederhana. Dari enam artikel di atas, pilih satu yang paling terasa dekat dengan yang pernah Anda alami atau amati — lalu jawab di kolom komentar:
Kenapa artikel itu yang paling terasa dekat bagi Anda?
Apa yang menurut Anda masih perlu ditambahkan atau diperbaiki dari artikel tersebut?
Jawaban paling tajam dan reflektif — baik yang mengafirmasi maupun yang mengoreksi — akan kami pilih untuk mendapatkan buku terbitan GBF, sebagai tanda terima kasih. Batas menjawab: 10 Agustus.
Kami menunggu sudut pandang Anda di https://www.linkedin.com/pulse/mengapa-menulis-community-first-bukik-setiawan-2ir9c