Rabu , 12 Agustus 2026 / 29 Safar 1448 H
Asal Mula Kesyirikan di Muka Bumi
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ:
إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الأُولَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
وَقَالَ: إِنَّ أَوَّلَ مَا دَخَلَ النَّقْصُ عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَ الرَّجُلُ يَلْقَى الرَّجُلَ، فَيَقُولُ: يَا هَذَا، اتَّقِ اللَّهَ وَدَعْ مَا تَصْنَعُ، فَإِنَّهُ لا يَحِلُّ لَكَ، ثُمَّ يَلْقَاهُ مِنَ الْغَدِ، فَلا يَمْنَعُهُ ذَلِكَ أَنْ يَكُونَ أَكِيلَهُ وَشَرِيبَهُ وَقَعِيدَهُ، فَلَمَّا فَعَلُوا ذَلِكَ، ضَرَبَ اللَّهُ قُلُوبَ بَعْضِهِمْ بِبَعْضٍ، ثُمَّ قَالَ:
لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ
كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
ثُمَّ قَالَ: كَلَّا وَاللَّهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ وَلَتَأْخُذُنَّ عَلَى يَدِ الظَّالِمِ وَلَتَأْطُرُنَّهُ عَلَى الْحَقِّ أَطْرًا أَوْ لَتَقْصُرُنَّهُ عَلَى الْحَقِّ قَصْرًا
(رواه أبو داود والترمذي)
Dari ‘Abdullāh bin Mas‘ūd رضي الله عنه, Rasulullāh ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya di antara perkataan para nabi terdahulu yang masih diingat oleh manusia adalah: Jika engkau tidak malu, maka lakukanlah apa yang engkau kehendaki.
Dan sesungguhnya awal kerusakan yang menimpa Banī Isrā’īl ialah ketika seseorang melihat saudaranya berbuat dosa lalu ia menasihatinya, tetapi keesokan harinya ia tetap makan dan duduk bersamanya. Ketika mereka melakukan hal itu, Allāh pun menutup hati sebagian mereka dengan sebagian yang lain, lalu Allāh berfirman:
‘Telah dilaknati orang-orang kafir dari Banī Isrā’īl melalui lisan Dāwūd dan ‘Īsā bin Maryam, karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka tidak saling mencegah perbuatan mungkar yang mereka lakukan, sungguh buruk apa yang mereka kerjakan.’”
Rasulullāh ﷺ bersabda:
“Tidak! Demi Allāh, sungguh kalian harus amar ma‘rūf nahi munkar, memegang tangan orang zalim dan memaksanya kepada kebenaran.”
(HR. Abū Dāwūd dan at-Tirmiżī)
Pelajaran dari Hadits
1. Awal kebinasaan umat-umat terdahulu terjadi ketika mereka membiarkan kemungkaran dan mulai mengagungkan manusia hingga melampaui batas.
2. Kesyirikan pertama kali muncul di bumi karena pengagungan terhadap orang-orang shalih secara berlebihan.
3. Syaitan menipu manusia agar membuat perantara menuju Allāh melalui kuburan dan patung orang shalih, hingga akhirnya disembah.
4. Pengagungan yang berlebih tanpa ilmu adalah jalan menuju syirik dan kehancuran aqidah.
5. Menjaga tauhid adalah dengan menjauhkan segala bentuk perantara ibadah kepada selain Allāh ﷻ.
---
Ayat Al-Qur’an yang Terkait
وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا
“Dan mereka berkata: Janganlah kamu tinggalkan tuhan-tuhanmu, dan jangan tinggalkan Wadd, Suwā‘, Yaghūth, Ya‘ūq, dan Nasr.”
(QS. Nūḥ: 23)
Ibnu ‘Abbās رضي الله عنهما menafsirkan:
“Mereka adalah orang-orang shalih dari kaum Nūḥ. Ketika mereka wafat, syaitan membisikkan agar dibuatkan patung di tempat mereka biasa duduk, dan diberi nama sesuai nama mereka. Awalnya tidak disembah, namun ketika ilmu hilang, patung-patung itu pun disembah.”
(Tafsīr Ibnu Katsīr, QS. Nūḥ: 23)
---
•Imām Mālik رحمه الله berkata:
“Tidak ada seorang pun dari manusia yang perkataannya seluruhnya bisa diambil kecuali orang yang ada di dalam kubur ini (yakni Nabi Muḥammad ﷺ).”
(Jāmi‘ Bayān al-‘Ilm wa Faḍlih, 2/32)
•Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:
“Dan sebesar-besar kerusakan adalah menjadikan kuburan sebagai masjid, karena hal itu merupakan asal dari kesyirikan dan penyembahan berhala.”
(Ighātsah al-Lahfān, 1/198)
---
اللهم اجعلنا من أهل التوحيد الخالص، واحفظ قلوبنا من الشرك والبدع، ووفّقنا لاتباع سنة نبيك محمد ﷺ، ولا تجعل في قلوبنا ميلاً إلى الغلو في الصالحين.
“Yā Allāh ﷻ, jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang mentauhidkan-Mu dengan sebenar-benarnya tauhid, jauh dari syirik dan bid‘ah, serta istiqāmah di atas sunnah Nabi-Mu ﷺ hingga ajal menjemput.”