...
“Saya bermimpi, melihat planet ini sebagai kumpulan tempat tinggal untuk manusia, bukan tempat tinggal kecerdasan-kecerdasan buatan yang betapa pun pintarnya tak akan pernah punya kelembutan etika dan keluhuran cita estetika seperti manusia biasa. Kota-kota yang tidak dibangun seperti Gotham City dalam kisah Batman, ketika manusia manusia sudah kehilangan kemanusiaannya. Pencakar langit di mana mana, jalan-jalan raya bertingkat tingkat, dihiasi bangunan-bangunan raksasa yang konon berarsitektur masa depan, tetapi telah kehilangan keindahan alaminya: menekan, dingin, kelam, dan “mati”.
Saya bermimpi kota-kota dikembangkan untuk manusia-manusia biasa, keluarga-keluarga yang hangat, rukun-rukun tetangga yang akrab, yang mengembang secara organik sesuai dengan kebutuhan hidup yang sebenarnya sederhana-sederhana saja. Yang rumah rumahnya berdiri oleh dorongan untuk berkumpul hangat dengan keluarga, dengan tetangga, dengan siapa saja. Yang di dalamnya, kita bisa terus memelihara kemanusiaan kita, dari ancaman segala yang serbabesar, serbabanyak, serbatinggi, serbacepat, tetapi justru menekannya. Serba batu, serbabesi, serbaraksasa. Menekan kemanusiaan yang sesungguhnya menyimpan kedahsyatan tak tepermanai, jauh mengatasi semua itu. Manusia yang lebih besar dari hidup, yang dunianya tak dibatasi oleh ruang tiga dimensi dan waktu yang memecah-mecah. Manusia yang sanggup menerobos dunia rendah, terbang tinggi ke dunia keluhuran khayal yang real, ke dunia ruhani tanpa batas, ke dalam keberlimpahan sempurna yang tak terperikan.
Saya bermimpi hidup di kota-kota kecil, tempat semua manusia adalah keluarga manusia yang lain. Di mana kehijauan dan keasrian alam mendapatkan tempat sebanyak-banyaknya. Di mana kecepatan, ketinggian, dan kebesaran tidak disembah seperti dewa. Saya bermimpi kedai-kedai hangat dan bersahaja lebih disukai ketimbang mal-mal atau emporium-emporium besar. Sesak, dan bising, yang dikerumuni orang bukan karena hendak menghilangkan rasa lapar yang biasa, rasa letih yang manusia, atau memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang secukupnya, melainkan karena kepanikan melawan kesepian kehidupan.
Ya, saya bermimpi kota-kota, dan desa-desa, yang ruang publiknya terserak di mana-mana. Ada gedung-gedung kesenian yang tak harus besar tapi aksesnya mudah dicapai siapa saja, ada galeri-galeri mungil, museum-museum yang ramah, perpustakaan-perpustakaan yang berlimpah, dan ada pusat-pusat hiburan yang sopan dan ramah keluarga.“
Selengkapnya 👇🏽
https://www.semutibrahim.com/2025/11/21/milangkala/