🌹
Ulama Sejuta Umat:
Buah Ketulusan
Syaikh Muhammad Al-Musa
(selaku mudir kepengurusan rumah dan kantor Syaikh Abdul Aziz bin Baz) berkisah:
🌷Ada sesuatu yang sulit dijelaskan tentang Syaikh Bin Baz rahimahullah.
Beliau memiliki tempat yang begitu dalam di hati manusia.
Bukan hanya orang yang dekat dengannya.
Bukan hanya para murid yang duduk di majelisnya.
Para pemimpin mencintainya. Rakyat biasa mencintainya. Orang tua hingga anak-anak pun mencintainya.
📌 Dan perkara ini bukan sesuatu yang membutuhkan banyak bukti.
💧 Tidak terhitung berapa banyak orang yang datang sambil menangis ketika mengetahui sakit yang diderita Syaikh.
Sebagian mereka bahkan bersumpah demi Allah Yang Maha Agung:
“Seandainya umur kami bisa diberikan kepadanya, niscaya kami akan memberikannya.”
👁️ “Saya Datang untuk Memberikan Satu Mata Saya”
📅 Pada tahun 1410 H, seorang pria asal Belgia keturunan Maroko datang menemui Syaikh di Thaif.
Ketika bertemu Syaikh, ia berkata:
💬 “Wahai Syaikh yang mulia, saya adalah Fulan, pencinta Anda. Saya datang untuk menghadiahkan salah satu mata saya kepada Anda.”
Hal itu karena Syaikh telah kehilangan penglihatannya.
Pria tersebut bahkan telah berkonsultasi kepada seorang dokter spesialis.
Dokter mengatakan bahwa hal tersebut memungkinkan dilakukan.
Ia pun siap pergi ke rumah sakit untuk menjalani operasi dan memberikan salah satu matanya kepada Syaikh.
Namun Syaikh menjawab:
💬 “Wahai saudaraku, semoga Allah memberkahi penglihatanmu dan memberimu manfaat dengannya. Aku ridha dengan apa yang telah Allah takdirkan.”
Sungguh…
Betapa dalam kecintaan orang itu kepada Syaikh.
Dan betapa besar pula keridhaan Syaikh kepada takdir Allah.
Kisah seperti ini bukan hanya terjadi sekali.
💧 “Biarkan Saya Melihat Syaikh”
Pada kesempatan lain.
Suatu hari, Syaikh sedang duduk bersama para tamu dan murid-muridnya.
Seorang pria Mesir berusaha mendekat kepada beliau.
↔️ Setiap kali kami mengingatkan,
“Mundurlah sedikit.”
Ia justru semakin mendekat.
Kami memintanya mundur berkali-kali.
Namun ia tetap mendekat.
Hingga akhirnya, matanya berkaca-kaca.
Ia berkata:
💬 “Demi Allah, saya tidak akan menjauh dari Syaikh yang mulia. Jangan salahkan saya! Ini adalah kesempatan saya.
Kalian selalu melihat beliau setiap saat. Sedangkan saya belum pernah melihatnya sebelum hari ini.
Biarkanlah saya memuaskan pandangan saya dengan melihat Syaikh yang mulia!”
Mendengar perkataannya, kami pun merasa iba.
Akhirnya, kami membiarkannya.
🌍 Mereka Datang dari Negeri yang Jauh
Kemudian, ketika Uni Soviet dibubarkan dan terjadi kelonggaran bagi kaum Muslimin di sana, banyak yang datang untuk menunaikan haji dan umrah.
Mereka juga menyempatkan untuk mengunjungi Syaikh Bin Baz.
Mereka berkata:
💬 “Betapa kami sangat merindukan melihat Syaikh sebelum kami wafat".
Semoga Allah merahmatinya.
Pembaca,
Beberapa penggalan kisah diatas bukan sekadar kisah tentang ulama yang dicintai.
Lebih dari itu…
Menunjukkan bagaimana ketulusan dan ilmu yang bermanfaat dapat menanamkan cinta di hati manusia.
Syaikh Bin Baz tidak perlu memaksa manusia untuk mencintainya. Beliau tidak mengejar popularitas.
Beliau hanya mengabdikan hidupnya untuk ilmu, dakwah, dan kemaslahatan umat.
Lalu Allah menanamkan kecintaan kepadanya di hati manusia.
Wala nuzakki 'alallahi ahadan
Wallahu hasibuna wa hasibuhu.
(Jawanib min Siratil Imam Abdil Aziz bin Baz: 493-495).
https://t.me/Teladanumat
September 3, 2026 205 2