Dulu, aku bicara seperti peluru. Tajam, cepat, dan tak kupedulikan siapa yang berdarah. Aku percaya pada logika, pada fakta yang tak bersentimen, pada dunia yang tak perlu menangis untuk orang yang mati. Aku berkata sejujurnya—kataku. Padahal aku menusuk, tanpa memeriksa luka-luka yang kusematkan. Fakta, katanya. Tapi mungkin itu hanya topeng bagi kekejamanku. Kini, aku mengingat segalanya. Setiap bisik hina, setiap ejek kecil yang nyaris tak terdengar. Dari mulut asing di jalan, hingga teman yang menyangka mereka hanya bercanda. Aku mulai menangisi hal-hal yang dulu tak kugubris. Sebuah kematian membuat nafasku sesak. Tatapan kecewa—menusukku lebih dalam dari semua penyakit yang pernah kurasa. Apakah ini karma? Sebuah cermin yang kupandangi sekarang memantulkan siapa aku dulu, dan siapa aku kini— dan jujur, aku takut pada keduanya. Aku pernah tak peduli. Kini, aku terlalu peduli. Dan hatiku menjadi medan perang, antara luka yang kuterima, dan luka yang pernah kuberikan.
Dulu, aku bicara seperti peluru. Tajam, cepat, dan tak kupedulikan… — My Life — TG.ME
June 8, 2025 179