ARS-TZH-1448.III.03
HUSNUL KHATIMAH BERAWAL DARI ISTIQAMAH
Sering kita menganggap bahwa baiknya ibadah seorang hamba terlihat dari banyaknya amal yang ia lakukan. Padahal, kemuliaan seorang hamba adalah ketika Allah memberinya taufik untuk tetap menjaga ketaatan hingga akhir hayat.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu ta‘ala berkata:
أَعْظَمُ الْكَرَامَةِ لُزُومُ الِاسْتِقَامَةِ
“Karāmah (kemuliaan) yang paling agung adalah senantiasa istiqamah dalam ketaatan.”¹
Ucapan beliau ini sejalan dengan apa yang disampaikan Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang amal yang paling dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
وَكَانَ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيْهِ مَا دَامَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ
“Amal agama yang paling beliau cintai adalah amal yang terus-menerus dilakukan oleh pelakunya.”²
Dari sini kita dapat melihat bahwa yang ditekankan bukan semata-mata banyaknya amal, tetapi bagaimana ketaatan itu terus dijaga oleh pelakunya.
Kita mudah bersemangat ketika hati sedang tersentuh. Namun, ketika kesibukan datang dan semangat itu tidak lagi seperti sebelumnya, di situlah istiqamah benar-benar diuji.
Istiqamah bukan tentang selalu berada pada puncak semangat, tetapi tentang tetap berjalan dalam ketaatan ketika keadaan tidak selalu sama.
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk menghitung berapa banyak amal yang sudah kita lakukan, tetapi lupa bertanya:
Apa yang masih saya lakukan sampai hari ini?
Berapa banyak kebaikan yang pernah kita mulai lalu berhenti?
Berapa banyak kajian ilmu yang pernah kita datangi, tetapi kemudian tidak lagi kita datangi?
Dan berapa banyak amal sederhana yang sebenarnya mampu kita pertahankan, tetapi justru kita tinggalkan karena merasa kecil?
Barangkali yang kita butuhkan bukan selalu menambah amal baru, tetapi kembali menjaga amal yang telah kita lakukan.
Kita tidak tahu berapa panjang umur yang tersisa. Karena itu, sudah semestinya kita memohon agar Allah menjadikan akhir hidup kita sebagai bagian terbaik dari perjalanan kepada-Nya.
Di antara doa yang dinukil dari Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu:
اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْرِي أَخِيرَهُ، وَخَيْرَ عَمَلِي خَوَاتِمَهُ، وَخَيْرَ أَيَّامِي يَوْمَ أَلْقَاكَ
“Ya Allah, jadikan sebaik-baik usiaku adalah akhirnya, sebaik-baik amalanku adalah penutupnya, dan sebaik-baik hariku adalah hari ketika aku bertemu dengan-Mu.”³
📚 Referensi:
¹ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (Ahmad bin ‘Abd al-Halim bin ‘Abd al-Salam, wafat 728 H), dinukil dalam al-Mustadrak ‘ala Majmu‘ Fatawa Syaikh al-Islam Ibn Taymiyyah, jilid 1, hlm. 153.
² Al-Imam al-Bukhari (Muhammad bin Isma‘il bin Ibrahim bin al-Mughirah al-Ju‘fi al-Bukhari, wafat 256 H), Shahih al-Bukhari, Kitab al-Iman, no. 43.
³ Abu Bakr Ibn Abi Syaibah (wafat 235 H), al-Mushannaf, no. 30124.
•┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈•
📟 Instagram al_ilmoe: https://instagram.com/al_ilmoe?igshid=ZDdkNTZiNTM=
📟 WA alilmoe:
https://whatsapp.com/channel/0029VaGNWYLDJ6H6tfpwSh0b

