š©Phillip Sekuritas Indonesiaš©
Market Review August 27, 2026
Indeks saham di Asia Selasa sore (1/9) ditutup turun seiring meningkatnya kembali ketegangan geopolitik yang mendorong kenaikan harga minyak minyak, sehingga memicu kembali kekhawatiran inflasi dan ekspektasi akan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.
AS dan Iran saling melancarkan serangan untuk pertama kalinya dalam satu bulan terakhir, dengan pasukan AS menghantam sebuah pulau di Selat Hormuz dan Iran membalas dengan melancarkan serangan terhadap Uni Emirat Arab (UEA) dan Yordania.
Imbal hasil (yield) obligasi global kembali naik ke tingkat tertinggi dalam hampir dua dekade seiring kenaikan harga minyak mentah yang memicu kekhawatiran inflasi dan meningkatnya ekspektasi investor bahwa bank sentral (Federal Reserve) akan menaikkan suku bunga.
Harga obligasi di Jepang dan Australia turun, mengikuti aksi jual pada surat utang Pemerintah AS (US Treasuries) yang telah mendorong yield US Treasury AS bertenor 10 tahun ke level tertinggi sejak Januari tahun lalu.
Lonjakan permintaan global akan perangkat keras Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) membuat aktivitas sektor manufaktur di Asia tetap bergairah di bulan Agustus, di tengah ketidakpastian dan lonjakan biaya produksi akibat perang berkepanjangan di Timur Tengah.
Aktivitas sektor manufaktur di Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan meningkat bulan lalu berkat permintaan yang kuat terhadap cip, komputer, dan produk terkait AI lainnya, yang membantu mengimbangi tekanan biaya yang kian meningkat akibat konflik Timur Tengah.
Perhitungan akhir (Final) data S&P Global Manufacturing PMI Jepang di revisis turun ke level 54.9 di bulan Agustus dari estimasi awal 55.1, sedikit lebih rendah dari level 54.5 di bulan sebelumnya dan memperpanjang ekspansi di sektor manufaktur menjadi delapan bulan beruntun.
Data S&P Global Manufacturing PMI Korea Selatan turun ke level 52.3 di bulan Agustus dari level 53.1 di bulan Juli, mengindikasikan laju ekspansi sektor manufaktur yang moderat namun masih berada di atas rata-rata.
Data RatingDog Manufacturing PMI Tiongkok naik ke level 51.5 di bulan Agustus dari level terendah dalam empat bulan, 50.9 di bulan sebelumnya.
Dari dalam negeri, data S&P Global Manufacturing PMI Indonesia merosot ke level 49.8 di bulan Agustus dari level tertinggi dalam lima bulan, 50.2 di bulan Juli, mencerminkan sedikit penurunan kondisi di sektor manufaktur.
Inflasi (CPI) Indonesia naik 3.19% Y/Y di bulan Agustus dari level terendah dalam tiga bulan, 2,28% Y/Y pada bulan Juli, sedikit melampaui ekspektasi pasar yang sebesar 3.13% Y/Y.
Harga konsumen inti di Indonesia naik 2,92 persen pada Agustus 2026 dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya, laju tercepat sejak Maret 2023. Inflasi Inti (Core CPI) naik 2.92% Y/Y, tertinggi sejak bulan Maret 2023.
Indonesia secara tak terduga mencatatkan surplus Neraca Perdagangan sebesar USD 0.13 miliar di bulan Juli 2026, lebih baik dari perkiraan defisit sebesar USD 0.3 miliar namun lebih rendah dibandingkan dengan surplus USD 4.13 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Ekspor tumbuh 6.05% Y/Y, lebih tinggi dari ramalan kenaikan 3.4% Y/Y namun, melambat dari 8.84% Y/Y. Impor melonjak 27.02% Y/Y, lebih dari estimasi 24.1% Y/Y namun melambat dari 34.27% Y/Y.
š Statistik
IHSG: 6,599.943 | +74.465 poin | (+1.14%)
Volume (Shares) : 59.697 Billion
Total Value (IDR) : 20.736 Trillion
Market Cap (IDR) : 11,556.593 Trillion
Saham naik : 407
Saham turun : 215
š Sektor Penopang (Bloomberg)
Energi : +16.342
Finansial : +11.426
Technology : +4.225
Top Gainers:
SINI :12,500 | +1,850 | +17.37%
LIFE :11,550 | +1,625 | +16.37%
UNTR :25,575 | +1,375 | +5.68%
POLU :19,375 | +600 | +3.20%
RDTX :13,775 | +475 | +3.57%
Top Losers:
DCII :192,200 | -7,900 | -3.95%
EMAS :8,800 | -800 | -8.33%
MGLV :11,500 | -725 | -5.93%
GGRM :20,325 | -475 | -2.28%
INDF :7,200 | -300 | -4.00%
September 1, 2026 593 1